Profil

Jumat, 26 Agustus 2016

JADILAH SEJARAH DENGAN TULISANMU

Menulis adalah sebuah pekerjaan memindahkan kata-kata ke dalam sebuah goresan pena. Setiap kata yang kita ucapkan akan hilang makna bersama dengan lenyapnya bau nafas kita. Kita bisa mengetahui setiap detil perkataan para tokoh yang sudah lama meninggalkan dunia melalui tuisan. Meskipun bukan mereka yang menuliskannya. Menulis adalah menggoreskan sejarah dunia. Setiap kita adalah sejarah bagi masa depan. Dan hanya akan terpampang dalam sebuat tulisan. Tanpa tulisan tidak ada yang akan mengenali kita. Cerita yang keluar dari ucapan akan sirna seiring berjalannya waktu. Bahkan makna yang tersirat akan menjadi kabur dan berpindah haluan, karena setiap penyampai ucapan akan melakukannya dengan cara berbeda pula. Tulisan membuat kita abadi, siapa yang pernah bertemu Aristoteles, Plato, Stalin, Eistein? Bahkan lebih ektrim lagi siapa yang pernah bertemu dengan Rasulullah Muhammad SAW? Tapi dengan membaca tulisan-tulisannya dengan membaca sejarahnya, dengan membaca kisah-kisah hebat mereka kita seakan berhadapan langsung dengan mereka. Bahkan dengan lantang kita bisa menyampaikan perkataan mereka kepada orang lain seakan kita mengetahuinya langsung dari mereka. Membuat abadi tidaklah dengan cara mengawetkan jasad para tokoh, tidaklah dengan membuat mereka hadir dalam mimpi, tapi memindahkan mereka dalam tulisan adalah cara yang terampuh. Betapa banyak tokoh yang menjadi inspirasi hanya karena tulisan. Coba sekarang tanyakan dalam diri sendiri, seberapa kenalkah kita dengan kakek kita, dengan orangtua kakek kita, dengan kakek dari kakek kita. Padahal mereka adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Tentu kita pernah dengar kisah tentang mereka dari orang-orang tua kita, namun akankah cerita yang sama akan menjadi konsumsi anak kita, cucu kita, cicit kita? Atau malah sejarah tentang kita juga akan bernasib sama dengan sejarah kakek buyut kita. Banyak pesan, pelajaran, wasiat orangtua yang begitu penting bagi kehidupan kita yang terlewatkan. Karena tidak adanya pena yang menggoreskannya. Dengan menulis, saya pribadi berkeinginan cukup sederhana. Bahwa sejarah keluarga tidak boleh hilang ditelan jaman. Bahwa kisah heroic pada buyut kita dalam menjalani kehidupan tidak boleh hanya katanya dan berbeda makna setiap jenjang keturunan. Semua harus satu kata, satu kisah, satu makna dan satu rangkaian sejarah yang akan terus terkenang dalam kehidupan anak cucu kita. Menulislah. Karena, tulisanlah yang akan meninggalkan jejak kemanfaatan. Ilmu kedokteran tidak akan seperti sekarang tanpa goresan ibu sina, angka nol tidak akan tercipta tanpa catatan seorang al jabar, kehidupan sang Teladan Nabi Muhammad tidak akan terekam tanpa perjuangan siang dan malam seorang As SYaf’i rh menelusuri setiap jejak ucapan Sang Baginda ke penjuru dunia dan menjadikannya setumpuk kitab yang begitu mulia. Setiap kepala mempunyai ide dan kemampuan otak dalam merekam ide sangatlah terbatas, apalagi jika kepala penuh dengan setumpuk ide. Nah, tulisanlah yang akan membantu ide kita teringat dengan sempurna. Menulislah, tulislah, catatlah, kenanglah dengan goresan pena Anda, dengan hentakan jari di keyboard computer Anda. Luangkanlah waktu untuk membuat sejarah, bahkan aktivitas menulis kita bisa juga menjadi sejarah. Asal kita menuliskannya. So, jangan malas menulis, jangan sungkan mengetik, jangan lelah bergerak. Karena satu kalimatpun tidak akan tercatat jika kita tidak memulai menulis kata pertama kita. Sesederhana itu keinginan saya untuk menulis, dan semoga ttulisan inipun akan menjadi sejarah saya yang tercatat dan di baca oleh anak cucu saya. Kelak. Dan saat inipun Anda sedang membaca sejarah tentang saya. Bagaimana seandainya jika saya tidak menuliskannya. Tentu Anda tidak akan membacanya, bukan?

Kamis, 07 Oktober 2010

QURBAN BANGKITKAN EKONOMI PEDESAAN

QURBAN BANGKITKAN EKONOMI PEDESAAN

Secara ekonomi, potensi qurban sangat besar dampaknya terhadap perputaran ekonomi tanah air. Mau tahu analisanya, mari kita simak analisa berikut. Menurut Ahmad Erani Yustika, Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance Indonesia), ada 30% penduduk Indonesia atau sekitar 70 juta orang yang mempunyai penghasilan rata-rata US$5.200 per tahun. Angka ini kita anggap sebagai angka untuk menunjukkan tingkat sosial ekonomi menengah masyarakat Indonesia. Jika 60% saja di antara mereka adalah ummat Islam (karena mayoritas), maka jumlah muslim yang masuk dalam strata ekonomi kelas menengah adalah 42 juta orang. Dengan asumsi harga kambing qurban yang minimal adalah Rp. 1 juta, maka kemungkinan besar golongan ini mampu untuk mengeluarkan dana pembelian kambing qurban satu tahun sekali. Mari kita anggap saja yang memiliki kesadaran untuk berqurban hanya 50% saja yaitu 21 juta orang. Maka nilai uang yang beredar menyambut idul adha adalah sekitar Rp. 21 triliun (bandingkan dengan potensi zakat yang ‘hanya’ Rp. 19 triliun). Jika kita anggap margin keuntungan bagi peternak kambing adalah sekitar 30%, maka Rp. 6,3 triliun-nya akan dapat dinikmati oleh mereka (peternak) yang kebanyakan berasal dari desa. Angka perhitungan ini adalah angka yang minimum, karena tidak jarang satu orang yang berqurban lebih dari satu ekor kambing, bahkan sapi. Selain  itu harga hewan qurban juga bervariasi.

Namun demikian sampai saat ini kita tidak memiliki catatan yang pasti tentang potensi ekonomi qurban ini, karena tidak adanya pencatatan secara nasional jumlah pequrban di tanah air. Potensi bahwa angka analisa di atas tidak sesuai (dibawah analisa) dengan kenyataan adalah sangat besar. Factor penyebabnya antara lain; adanya orang Indonesia di luar negeri; jama’ah haji Indonesia yang ternyata memilih berqurban di tanah suci, dan; masih banyak orang Islam yang mampu untuk berqurban namun tidak berqurban.

Berqurban Di Luar Negeri

Secara ekonomi melaksanakan ibadah qurban bagi orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri adalah suatu hal yang tidak sulit, secara ekonomi sebagian besar dari mereka adalah orang mampu, meskipun seorang mahasiswa. Karena penulis mempunyai teman yang sedang kuliah di Australia, rutin menitipkan qurbannya di Indonesia melalui lembaga zakat tempat penulis pernah bekerja.

Biasanya, qurban yang dilaksanakan di luar negeri dikoordinir oleh perkumpulan mahasiswa muslim setempat. Standar luar negeri tentang penyembelihan hewan yang berbeda dengan di Indonesia membuat mereka memang harus dikoordinir. Karena lokasi penyembelihan biasanya harus dirumah potong hewan atau harus mendapatkan ijin dari pemerintah setempat untuk penyembelihan sendiri.

Ada kisah yang menggambarkan betapa berbedanya pelaksanaan qurban di luar negeri dengan di Indonesia. Seorang warga Negara Indonesia yang tinggal di Kanada mengisahkan, karena ketatnya peraturan tentang penyembelihan hewan ternak di Kanada, dan tidak adanya kerjasama yang baik dengan rumah potong hewan akhirnya mereka harus menyembelih kambing di bath up kamar mandi apartemen, bayangkan anda menyembelih kambing di bak mandi anda, kegaduhan, darah berceceran, belum lagi kotorannya. Bahkan kejadian ini sempat menimbulkan salah paham dengan tetangga mereka yang hampir melaporkannya ke polisi setempat. Ini baru kisah penyembelihannya, pendistribusiannya juga tidak kalah repot, karena untuk dibagikan ke tetangga tentu mereka tidak akan begitu saja menerima daging yang tidak diketahui tingkat kesehatannya.

Sangatlah bijak jika orang-orang yang berada di luar negeri juga ikut membangkitkan ekonomi tanah airnya sendiri, selain harga hewan qurban yang lebih murah, sasaran pendistribusian hewan qurban juga akan lebih bermanfaat jika memang diterima oleh yang membutuhkan. Saat ini untuk berqurban di tanah air sangatlah mudah, banyak lembaga zakat yang menerima amanah pelaksanaan ibadah qurban. Anda tinggal transfer, mereka akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Laporan pelaksanaan juga biasanya akan dikirimkan melalui email.

Qurban Jama’ah Haji Indonesia

            Bagi sebagian jama’ah haji Indonesia, berqurban di tanah suci adalah sebuah target tersendiri ketika sedang melaksanakan ibadah hajinya. Mereka berpikir sekali-kali ingin merasakan qurban di tanah suci. Padahal dengan berqurban di tanah suci mereka secara tidak langsung tengah mengurangi jatah tahunan yang menjadi hak para peternak Indonesia. Memang tidak salah berqurban di tanah suci, namun coba kita simak penuturan K.H. Aminuddin Saleh pimpinan Yayasan Ta-Qua Kota Cimahi ketika melaksanakan ibadah haji. Ia pernah melihat bangkai seekor domba yang sudah disembelih diletakkan begitu saja di depan teras sebuah rumah. "Untuk hewan dam akibat haji tamattu atau qiran di tanah suci berlebihan akhirnya menjadi bangkai karena sulit membagikannya. Apalagi ditambah dengan ibadah kurban," katanya.

            Sebagian besar daging qurban tersebut memang diawetkan untuk dikirim ke Negara-negara yang miskin. Namun ternyata di tanah air sendiri masih banyak yang berebutan demi mendapatkan hanya sekerat daging yang jika di masak akan habis sekali santap. Bahkan penulis pernah melihat seorang dhuafa yang membanting daging qurban di depan panitia pembagian daging qurban karena sangat sedikitnya daging yang diterima. Kita tidak membicarakan minimnya rasa syukur dhuafa tersebut yang telah mengantri berjam-jam ditambah dibentak-bentak panitia karena dianggap keluar dari barisan antriannya, namun yang patut kita soroti adalah, betapa kekurangannya kita akan daging qurban, hingga akhirnya panitia harus membaginya dengan porsi yang sangat sedikit.

Tidak ada salahnya jika calon jama’ah haji yang akan berangkat ke tanah suci jauh-jauh hari merencanakan qurbannya di tanah air, mereka bisa menitipkannya ke sanak saudara atau ke lembaga amil zakat yang ada di Indonesia. Selain itu, pelaksanaan qurban di Indonesia akan meringankan ibadah haji, karena mereka tidak harus repot-repot datang ke pasar hewan (maslah) Jabal Nur untuk memilih dan membeli hewan qurban di tanah suci.

Ada Rp. 60 miliar potensi ekonomi yang dapat dinikmati oleh peternak Indonesia jika seluruh jama’ah haji Indonesia melaksanakan qurbannya di Indonesia.

 

Kesadaran Ber-Qurban

Saya mempunyai seorang teman yang berprofesi sebagai teknisi mesin printer, gajinya sangat mepet dengan standar UMP, dengan tanggungan istri dan seorang anak serta kontrakan dan lain sebagainya, teman saya ini hampir tiap tahun melaksanakan ibadah qurban. Lalu bagaimana dengan jawaban seperti ini, “Tahun lalu kan sudah qurban” yang keluar dari seorang pengusaha yang notabene mampu untuk berqurban.

Sebagian ulama sepakat bahwa hukum berqurban adalah sunnah muakadah, yaitu sunnah yang mendekati wajib bagi mereka yang mampu melaksanakannya. Ada ulama yang mendefinisikan ‘mampu’ disini yaitu, masih memiliki kelebihan (sisa) harta setelah melaksanakan (membeli) hewan qurban.

Sebagian lagi menghukuminya wajib dengan bersandar pada dalil hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (yang artinya) : ”Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi ia tidak menyembelih kurban maka jangan sekali-kali ia mendekati mushalla kami” [Riwayat Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3123), Ad-Daruquthni (4/277), Al-Hakim (2/349) dan (4/231) dan sanadnya hasan]

Sisi pendalilannya adalah beliau melarang orang yang memiliki kelapangan harta untuk mendekati mushalla jika ia tidak menyembelih kurban. Ini menunjukkan bahwa orang itu telah meninggalkan kewajiban, seakan-akan tidak ada faedah mendekatkan diri kepada Allah bersamaan dengan meninggalkan kewajiban ini (qurban).

Qurban sebagai ritual ibadah tahunan yang melibatkan harta, sebenarnya dapat direncanakan, sebagaimana halnya dengan haji melalui tabungan haji. Bahkan nilainya yang lumayan kecil memudahkan seseorang untuk merencanakannya jauh-jauh hari. Saat ini banyak lembaga zakat yang memiliki tabungan qurban, mereka menerima titipan sejumlah dana yang ketika sudah cukup bisa dibelikan hewan qurban melalui lembaga zakat tersebut juga. Sangat praktis bukan.

Hal inilah yang dilakukan oleh teman saya tersebut, setiap bulan dia menyisihkan Rp. 50-100 rb/bulan untuk tabungan qurban. Dan hasilnya tiap tahun dia mampu berqurban.

Mari kita laksanakan ibadah qurban dan meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia.

Senin, 09 November 2009

BIASAKAN MEMBERI SALAM KEPADA ANAK KECIL

Beberapa pengamat spikologi anak berpendapat untuk membentuk karakter anak memang harus dilakukan sejak kecil, dari yang sederhana hingga yang prinsip seperti mengajarkan isi agama kita kepada mereka.

Pada usia dini anak akan sangat cepat sekali mencontoh lingkungannya. Saya punya pengalaman yang agak kurang enak, anak Om saya yang sekarang usianya sekitar 6-7 tahun suka sekali berkata jorok, usut punya usut, kebiasannya ini dipengaruhi oleh pergaulannya dengan karyawan Om. Karena pegawai Om saya kebanyakan laki-laki maka mereka gampang akrab dengan anak Om. Nah, di saat Om dan Tante lengah, karyawan Om sering mengajarkan kata-kata jorok kepada anak Om saya. Mungkin awalnya dianggap hanya bercanda saja, namun akhirnya menjadi kebiasaan. Ketika anak Om saya dinasehati saat berbuat nakal, maka yang keluar adalah kata-kata jorok yang sangat tidak sopan. Bayangkan betapa malu orangtuanya ketika kata-kata ini keluar kepada orang lain atau kepada tamu yang sedang datang.

Nasehat saya bagi yang punya workshop / pabrik / tempat usaha dirumah dengan karyawan yang banyak, dan anda punya anak kecil, bicaralah pada karyawan anda untuk tidak mengajarkan hal-hal yang tidak pantas kepada anak anda, kalau perlu ancam mereka dengan pemecatan jika ketahuan, karena dampaknya sungguh sangat hebat. Sampai sekarang anak Om saya masih sering melontarkan kata-kata kotor, bahkan kepada orangtuanya sendiri.

Suatu sikap bersahaja sesungguhna telah diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW. Beliau tidak sungkan-sungkan untuk mengucapkan salam kepada sekerumunan anak kecil yang sedang bermain. Bayangkan, seorang pemimpin ummat, Rasul Allah, demikian rendah hati kepada anak kecil sekalipun. Tidak ada rasa takut akan berkurang wibawanya. Hikmahnya, selain mengajarkan kepada anak-anak tentang kandungan agama ini, salam juga berarti do’a kepada orang yang kita beri ucapan.

Mungkin kini saatnya kita mengubah kebiasaan memberikan ucapan “da,,da,,” atau “Sun jauh,,,mmuuaah” kepada anak kita dengan ucapan salam dan cium tangan. Allahu ‘alam bishshowab

KISAH SEBUAH BEJANA YANG BISA BERANAK

Sewaktu kecil saya pernah berlangganan majalah Ananda, mungkin masih banyak yang ingat. Di salah satu rubrik cerita saya membaca kisah yang cukup menarik. Kalau tidak salah settingannya adalah tentang seorang yang cerdik sebut saja Si Fulan dengan seseorang yang pelit lagi kikir.

Seingat saya kisah begini :

“Si Fulan adalah seorang yang cerdik dan pandai, di kampungnya dia terkenal kerap menyelesaikan masalah tanpa masalah (kayaknya pernah dengar kata-kata ini). Suatu saat dia memperoleh pengaduan dari seorang warga tentang tetangganya yang terkenal pelit dan kikir, kerjanya mengumpulkan harta tanpa mau berbagi bahkan meminjamkan sesuatu saja rasanya berat. Setelah mendengar keluhan tersebut Si Fulan segera menyusun siasat.

Datanglah ia ke rumah si kikir itu, dilihatnya dia sedang bersantai dirumahnya, setelah mengucapkan salam dan berbasa-basi mulailah Si Fulan menjalankan strateginya.

“Wahai tetangga yang kaya raya lagi baik hati, sungguh terpuji sikapmu terhadap tetangga yang lain,” puji Si Fulan. Si Kikir pun berfikir bagaimana mungkin Si Fulan menyebut dirinya seperti itu, “Apa yang kau ketahui tentang aku?” jawab si Kikir.

“Seluruh tetanggamu menceritakan semua yang baik tentang dirimu, kau suka berbagi, suka meminjamkan sesuatu kepada orang lain bahkan kau suka sekali membantu tetangga yang sedang kesusahan,” ungkap Si Fulan. Kontan si Kikir merasa tersanjung dengan kisah Si Fulan ini, dan ia pun membenarkan kata-kata si Fulan tanpa kecuali. “Lalu apa maksud kedatanganmu kemari?” Tanya si Kikir.

“Begini, aku saat ini sedang membutuhkan sebuah sebuah bejana untuk memasak. Karena aku mendengar tentang engkau yang baik ini maka aku datang kemari untuk meminjamnya,” jawab Fulan. Terkaget si Kikir mendengar jawaban itu. Karena ia merasa tidak enak dengan berat hati meminjamkan bejana tadi.

Selang beberapa hari, si Fulan datang lagi ke rumah si Kikir. Sambil setengah berteriak dia berkata, “Sungguh beruntung wahai engkau, sungguh beruntung.”

“Apanya yang untung, cepat katakan!” sambut si Kikir. “Bejana yang engkau pinjamkan kepadaku tempo hari tadi pagi beranak. Ini aku bawakan anaknya,” jawab Si Fulan.

“Benarkah? Jika demikian bawa kemari anak bejana itu. Itu adalah milikku,” sambut si Kikir sambil merebut sebuah bejana kecil yang indah. “Jika demikian rawatlah induk bejana itu dan bawalah anaknya kemari jika dia beranak lagi,” perintah si Kikir.

Beberapa hari kemudian si Fulan datang kembali dengan membawa sebuah bejana kecil lainnya. Dan dengan gembira si Kikir kembali mengambil anak bejananya itu dengan gembira. “Teruslah beranak wahai bejanaku sehingga banyak jumlah anakmu,” harap si Kikir. Fulan menanggapinya dengan senyum.

Lalu beberapa hari kemudian si Fulan datang kembali, namun si Kikir yang sudah menunggu selama berhari-hari agak terheran-heran. Karena si Fulan datang dengan tangan kosong dan menampakkan wajah yang sedih.

“Ada apa wahai Fulan? Kenapa engkau murung? Mana anak bejanaku?” tanya si Kikir bertubi-tubi. Sambil tetap menampakkan wajah sedihnya si Fulan menjawab, “Sungguh malang nasibmu, aku datang dengan berita buruk. Bejana yang engkau pinjamkan kepadaku telah meninggal dunia. Dia telah kami kuburkan dan tidak dapat kami kembalikan kepadamu,”

Seketika si Kikir melompat dari tempat duduknya sambil marah, “Bagaimana mungkin ada bejana yang  bisa meninggal dunia. Tidak mungkin. Engkau hanya mengarang cerita agar engkau bisa memiliki bejanaku yang besar itu. Tidak masuk akal ada bejana bisa meninggal dunia.”

“Begitulah yang terjadi,” balas Fulan.

“Tidak mungkin engkau pasti bohong,” jawab si Kikir.

“Saudaraku sadarkah engkau telah jatuh dalam kekikiran. Kemarin engkau dengan mudah menerima bahwa bejanamu dapat beranak dan engkau mengambil anaknya. Namun bagaimana bisa sekarang engkau menolak jika bejanamu juga bisa meninggal dunia. Sadarlah dunia telah menipumu. Akalmu tertutupi oleh nafsu ingin memperoleh keuntungan tanpa berfikir untuk berbagi. Sesungguhnya tetangga-tetanggamu menceritakan yang sebaliknya tentang engkau, maka sadarlah bahwa hidup ini bukan hanya urusan dunia tapi masih ada pertanggung jawaban di atas sana,” si Fulan dengan nada keras menasehati si Kikir.

Akhirnya si Kikir sadar akan sikapnya selama ini dan ia berjanji akan memperhatikan tetangganya dan selalu berbagi bersama mereka.

Selasa, 25 Agustus 2009

KETULUSAN AKAN MEMBAWA KETENANGAN

Senyum tulus tidak mengharap balasan, ma’af yang tulus tidak menanti uluran, pemberian yang tulus tidak menunggu penghargaan.
Artinya segala yang dilakukan dengan tulus tidak akan terbawa ke alam pikiran untuk diputar-putar tentang kemungkinan yang akan terjadi setelah hal itu dilakukan.
Ketika kita tersenyum, pikiran tidak mempertanyakan ‘Kenapa dia tidak tersenyum juga?’ ’Kenapa mukanya masam?’ atau ’Jangan-jangan senyumku dianggap mengejek’ dan berjuta pertanyaan lainnya. Jika kita memang tulus biarkan yang terjadi menjadi seperti seharusnya terjadi, jangan memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
 Ma’af yang tulus adalah tidak menunggu uluran tangan yang kita mintai ma’af. Buang jauh-jauh prasangka anda harus melakukan hal yang lebih untuk meminta ma’af. Cukupkan diri dengan kata ma’af tulus dari hati tanpa dibuat-buat. Justru terkadang permintaan ma’af yang berlebihan susah untuk diterima karena bisa dianggap merendahkan orang lain atau sebaliknya jika tanggapan orang itu tidak seperti yang anda harapkan maka ketulusan anda akan sirna. Biasa saja....
 Misal, ketika anda meminta ma’af dengan sekeranjang buah sebagai hadiah, orang yang anda mintai ma’af akan takut jika menerima ma’af anda, karena menganggap harga dirinya akan dinilai sama dengan sekeranjang buah tadi. Jadi cukuplah tulus sebagai pembungkus ma’af anda.
Pemberian dengan menunggu penghargaan sama saja dengan menghargai kita senilai dengan barang yang kita berikan. Ketulusan akan membuat nilai barang itu jauh bekali-kali lipat dihadapan orang yang kita beri. Pemberian yang tulus adalah pemberian yang dengan secepat kilat kita lupakan. Artinya kita tidak akan pernah mengingatnya apalagi mengungkitnya, baik di hati maupun di ujung lisan. Tapi ingat, sebaliknya jika kita menerima pemberian orang lain, ingatlah sepanjang hayat atau sepanjang kita bisa mengingatnya. (abu tazkiyah)

EGOIS

Terkadang kita membutuhkan nasehat dari orang lain tapi ternyata bukan untuk berarti benar-benar ingin mendapatkan solusi dari orang lain, tetapi tidak lebih dari pada sekedar ingin tahu pandapat orang lain tentang masalah kita, dan kemudian mementahkannya, mungkin.
 Ada orang yang dating kepada seorang teman untuk meminta nasehat kepadanya. Namun dalam diri, kita sudah siap sedia sejuta pertanyaan yang akan melemahkan pendapat teman kita tersebut. Bahkan, tanpa kita sadari jsutru kita memaksa dan menuntut teman kita tersebut untuk setuju dengan pendapat kita sendiri. Jika ini yang terjadi sebenarnya anda tidak butuh nasehat, yang anda butuhkan adalah persetujuan. Hal ini terjadi karena sifat egois telah menuntun anda untuk demikian (sekali lagi sadar atau tidak).
 Untuk beberapa saat anda dapat tersenyum karena merasa memiliki pendapat yang lebih baik dari pada orang lain. Tapi lama kelamaan teman-teman anda akan susah untuk anda temui, karena kurangnya penghargaan perasaan dari anda. Maka dari sekarang jika meminta nasehat atau istilah kerennya curhat, bersiaplah untuk suatu perbedaan bahkan mungkin pertentangan dari pemikiran anda.(abu tazkiyah)

JANGAN BUANG ENERGI PERCUMA

Setiap hari kita mengggunakan 6-8 jam untuk beristirahat. Istirahat adalah hak tubuh (termasuk otak) untuk menenangkan diri setelah seharian kita gunakan untuk beraktifitas dan berfikir. Namun apa jadinya jika tubuh dan otak kita, kita pergunakan bukan untuk hal-hal yang tidak produktif. Tentunya istirahat yang kita lakukan hanya untuk membayar aktifitas konyol kita.
 Banyak sekali hal yang kontraproduktif yang justru menghabiskan lebih banyak tenaga, pikiran bahkan waktu dari pada pekerjaan yang menjadi tugas pokok kita. Berdebat yang biasanya tidak akan berakhir dengan ketenangan karena teman debat –atau musuh- tidak bisa menerima pendapat kita adalah salah satu hal yang tidak produktif itu. Orang biasa berdebat bukan untuk menemukan titik temu yang jelas, tapi justru malah mempertegas perbedaan kita dengan orang lain. Bahkan tidak jarang perdebatan berujung pada perselisihan dan paling ekstrim adalah saling tikam. Bukankah itu sangat tidak produktif dan menghabiskan tenaga.
 Kemudian mencela orang atau sesuatu. Bukannya manfaat yang kita dapat tapi justru pikiran berkepanjangan untuk mencari celah kesalahan yang lainnya yang bisa kita cela. Jika sudah demikian rasanya tidak ada hal yang baik di depan kita. Tenaga dan pokiran kita habis untuk mencela bukan?! Adakah manfaatnya? Apalagi jika yang kita cela adalah orang lain, tentu akan berdampak kurang baik bagi diri kita dan orang-orang dekat kita, jika celaan itu diketahui oleh orang lain juga. Makin bertambah saja daftar orang yang tidak simpati pada kita.
 Sebaiknya kembangkan sikap rendah hati tanpa harus rendah diri. Karena dengan demikian orang pun akan bersikap serupa dan persaudaraanlah yang akan terbina. Sungguh indah bukan?! (abu tazkiyah)